Selasa, 26 Februari 2013

Toleransi?

Satu kata yg amat mudah diucapkan. Apakah sebegitu mudahnya pula untuk diterapkan? Masing-masing orang mempunyai ukuran. Semakin direnungkan, arti sebuah toleransi sesungguhnya tidaklah sesederhana yg dipikirkan kebanyakan orang. Toleransi bukanlah sekedar mengerti, memaafkan. Toleransi itu kemampuan. Kemampuan merasakan dari hati, apabila kita berada di posisi orang yg seharusnya diberi toleransi tetapi tidak mendapatkannya, bagaimana rasanya. Juga kemampuan memahami, yang bagaimanakah yg perlu diberi toleransi dan yang bagaiamanakah pula yg tidak perlu. Tidak lupa, toleransi juga mengukur, seberapa toleran-kah sikap yg perlu ditunjukkan kepada sang target untuk membuatnya berubah. Toleransi tidak hanya untuk orang yg sedang kesusahan dan membutuhkan pertolongan, tetapi juga untuk orang yg kurang mampu menempatkan dirinya sesuai dengan keadaan, beradaptasi dengan lingkungannya, dan mengerti posisi orang lain. Intinya, toleransi itu meliputi berbagai hal.

Kalau toleransi tidak mudah, apakah susah? Tidak juga, kalau kita tidak menganggapnya begitu. Adanya toleransi melegakan berbagai jenis orang, tetapi juga menyusahkan berbagai jenis orang. Misalnya saja, orang yg memang susah untuk menoleransi yg lain. Dia akan merasa terbebani dengan keharusan menoleransi itu. Tetapi untuk orang yg sudah terbiasa menoleransi, dia akan merasa lega karena dia ternyata masih punya banyak stok toleransi untuk berbagai orang lain yg belum dan akan dia temui.

Menjadi orang yg diberi toleransi? Janganlah terlampau mengandalkan. Mengandalkan toleransi untuk meng-cover perbuatannya yg tidak benar, misalnya. Janganlah membuat yg memberi toleransi menjadi berifkir dua kali apakah toleransi yg ia berikan salah alamat atau tidak pantas diberikan atau sudah berlebihan. Sebab jika begitu, orang yg memberi toleransi akan meniadakan toleransinya, dan bahkan bisa berbalik menjadi antipati. Mengapa? Karena sudah pasti dia akan kesal, menunggu kesempatan berupa toleransi yg sudah ia berikan kepada yg lain disia-siakan atau malah dijadikan senjata untuk merugikan dirinya. Oleh karena itu, yg diberi toleransi, bersyukurlah. Bersyukurlah karena engkau mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki sikapmu, mendapatkan kesempatan untuk belajar menghargai, mendapatkan kesempatan untuk belajar menyalurkan toleransi tersebut kepada orang lain yg menurutmu pantas mendapatkannya.

Toleransi bukan hanya tentang kelonggaran. Toleransi bukan hanya tentang kesempatan. Di berbagai aspek kehidupan, toleransi itu perlu.

Kamis, 21 Februari 2013

KAMI

Sudah mencapai sesuatu penting apakah gue hari ini? Sepertinya.... YA! Gue kembali menemukan indahnya keberagaman yg menyatu dalam sebuah kebersamaan. Keberagaman yg saling melengkapi. Keberagaman yg membantu gue melalui proses sesulit apapun. Keberagaman yg sangat...gue hargai. Walaupun ya, gue akui, terkadang keberagaman itu pula yg membuat gue ingin menumpah kekesalan gue kalau saja gue tidak berfikir tentang efek dominonya. Keberagaman yg membuat gue tahu pentingnya sebuah pemahaman, toleransi, dan pengertian. Keberagaman yg membuat gue mengerti, gue nggak hidup sendiri, gue hidup bukan cuma untuk memenuhi kebutuhan gue sendiri, selalu ada orang lain. Ya, orang lain yg gue butuhkan, orang lain yg gue inginkan, orang lain yg gue singkirkan. Keberagaman itu membuat gue tahu bagaimana rasanya apabila pendapat gue dihargai, bagaimana sakitnya diabaikan, bagaimana tidak enaknya apabila gue mengabaikan yg lain, dan berbagai macam perasaan lainnya. Keberagaman yg menuntun gue menemukan pengalaman baru yg belum pernah gue alami. Keberagaman yg membuat gue bahagia, punya teman seperti kalian, RAXIVENN :)

At: Basketball Court of Insan Cendekia