Rabu, 28 Mei 2014

Politik Etis

   Kerja rodi yang dilakukan bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda adalah semata-mata untuk kepentingan Belanda. Awalnya untuk mendukung kegiatan VOC, namun setelah VOC dibubarkan, Daendels menggunakan tenaga rakyat Indonesia secara paksa untuk membangun jalan dari Anyer hingga Panarukan untuk memudahkan transportasi pemerintah kolonial Belanda. Kemudian setelah Belanda menguasai Indonesia kembali pasca kekalahannya melawan Inggris dalam mempertahankan Pulau Jawa, pemerintah kolonial Belanda menggencarkan usahanya dalam menjual kekayaan Indonesia ke luar negeri. Seperti yang dilakukan Van der Capellen, menyewakan tanah-tanah rakyat Indonesia kepada pengusaha-pengusaha Eropa. Lalu pada masa Gubernur Jenderal Van den Bosch, kebijakan tanam paksa yang sangat menguntungkan Belanda namun merugikan rakyat Indonesia diterapkan. 1/5 lahan pertanian rakyat setiap desa harus ditanami tanaman ekspor yang kemudian hasilnya diberikan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk dijual ke luar negeri. Belanda mendapat keuntungan yang sangat besar dari hasil penjualan tanaman ekspor tersebut. Dengan keuntungan itu, Belanda dapat melunasi utang-utangnya, mengatasi masalah keuangan, hingga memulikan resesi ekonomi Belanda.

      Penderitaan rakyat Indonesia akibat kebijakan tanma paksa menarik simpati rakyat Belanda yang sudah mendapatkan ide keadilan, kemanusiaan, dan perlindungan sehingga mendorong munculnya berbagai kritik mengenai utang budi Belanda kepada rakyat Indonesia yang telah mengisi kekosoongan kas Belanda. Slaah satunya adalah Van Deventer yang menulis artikel "Een Eereschuld" atau "Utang Kehormatan" di majalah De Gids. Menurut Van Deventer, utang tersebut harus dibayar dengan mengobati penderitaan rakyat Indonesia melalui peningkatan kesejahteraan. Akibat berbagai kritik tersebut, pemerintah kolonial Belanda akhirnya menerapkan kebijakan Politik Etis yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia melalui Edukasi, Migrasi dan Irigasi. Dalam bidang pendidikan, Belanda membangun banyak sekolah di berbagai jenjang, juga membuka kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk belajar di Eropa maupun Timur Tengah. Dengan pendidikan tersebut, juga pengaruh ideologi yang berkembang di dunia seperti liberalisme, kemerdekaan, nasionalisme dan sebagainya, kaum terpelajar Indonesia memperoleh kesadaran mengenai keadaan bangsanya yang tertiindas oleh penjajahan Belanda. Kesadaran itu di kemudian hari membangkitkan semangat nasionalisme rakyat di berbagai kalangan untuk melepaskan diri dari penjajah, untuk memperoleh kemerdekaan. Kemudian mulai muncul pergerakan-pergerakan nasional untuk melawan Belanda.