Sabtu, 01 Agustus 2015

Percobaan Pertama

Entah sudah kali ke berapa gue melakukan ini. Entah bagaimana bisa gue selalu dapat posisi strategis seperti ini. Entah mengapa dia senang banget berada di sini. Sepi, hening, sendirian pula. Tapi, hal itu malah yang membuat gue terpesona. Dia benar-benar terlihat serius dengan aktivitasya, meskipun hanya melamun. Hmm, mungkin ini saatnya gue....
Zzzzt, zzzt, zzzzt..
Winda is calling..
Aduh, anak ini nggak tahu waktu banget ya neleponnya. Setengah hati, gue meninggalkan posisi strategis gue.
"Ya, Win?"
"Kamu di mana? Katanya mau jemput aku? Sedikit lagi aku selesai, nih. Habis itu kita makan, ya.."
"Iya, iya ini lagi di jalan."
"Eh jangan makan deh, temani aku ke salon aja, oke?"
"Iya, terserah kamu aja."
"Kok terserah, sih? Kok kamu iya iya aja, sih? Kamu nggak ada ide lain, apa? Bosen ya sama aku?"
Hhhh.. Sudahlah, cukup lama aku mendengarkan nenek cerewet ini.
"Nah, itu kamu tau."
"Kamu bilang apa? Kamu bosen sama aku? Beneran?"
"Aku hanya mengiyakan pertanyaanmu, Win. Kamu pasti sakit hati, kan? Maafin aku ya, kita sudahi aja. Kamu pasti dapat penggantiku yang berkali lipat jauh lebih baik daripada aku. Bye,"
"Eh, fan.. Irfan!"
Tut.. Tut.. Tut..
Fiuh, selesai. Eh, ke mana perginya dia? Kok tahu-tahu sudah nggak ada sih? Baiklah, mungkin besok dia ke sini lagi. 

"Fan, tolong bawakan file ini ke ruangan Pak Arya, ya. Terima kasih," 
Yah, kena lagi deh gue. Okelah, hitung-hitung bantu orang tua.
"Baik, Bu."
Gue keluar dari kelas dan menuju ruang guru. Eh, itu bukannya dia ya? Ya ampun, kenapa dia celingukan begitu? Mampus, dia ngeliat gue. Ngapain dia nyamperin gue? Aduh gue mesti cepat-cepat kabur. Dengan kecepatan meningkat drastis, gue berjalan melewati dia begitu saja menuju ruang guru. Padahal sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu ke gue. Bodo amat deh, lagian kenapa harus gue coba? Kan ada banyak orang selain gue. Lagi pula mati aja gue kalo dia beneran nanya ke gue. Memangnya gue bisa jawab? 

"Hai, Ris."
"Oh, halo Fan. Lo ngapain di sini?"
"Pengen ketemu lo aja. Nggak boleh?"
"Ngapain ketemu gue?"
"Loh, lo gimana sih. Semua orang tuh senang kalo pacarnya pengen ketemu. Nah elo, malahan menginterogasi."
"Ya, abis kayaknya kita udah sering ngobrol via telepon, sms, chatting di media sosial manapun, masa lo pengen ketemu gue lagi?" 
Sableng nih cewek, masa bosen sama gue? 
"Lo bisa pergi, nggak? Gue pengen konsen belajar, nih. Sedikit lagi ujian."
"Pergi? Lo pengen gue pergi?"
Riska menganggukkan kepala. Kacamatanya ikut turun seiring anggukan kepalanya. Ampun, kenapa gue bisa nembak dia sih?
"Oke, gue pergi. Tapi gue nggak kembali lagi, ya."
"Maksud lo, lo mau kita putus?" Riska terlihat bingung. Rasain, sok jual mahal sih.
"Yap," Riska masih mengerutkan kening. Tak lama kerutannya mulai hilang, digantikan senyumnya yang semakin lama semakin cerah. 
"Akhirnya.. Gue menunggu kapan lo bosen sama gue. Sebenarnya udah dari dua minggu lalu gue pengen konsen belajar. Tapi gue nggak tega ngomongnga, lo baik banget sih. Oh ya, makasih juga ya lo udah mutusin gue. Lo benar-benar mempermudah gue. Gue jadi nggak perlu merasa bersalah sama lo." Selesai bicara begitu, Riska pun berlalu dari hadapan gue.
Gue ternganga. Apa-apaan? 

Gue berpapasan sama dia di perpustakaan. Nggak lucu banget, sih. Sekali-kalinya gue ke sini, malah ketemu dia. Sumpah, gue cuma mau meminjam buku referensi tugas. Kenapa harus papasan sama dia? Kalau dia negur gue gimana? Ah, pura-pura nggak liat aja, deh.
"Um, Fan?"
Aduh, terlanjur pula gue berhenti. Kepalang basah, bro.
"Ya, kenapa?"
"Lo udah punya kelompok buat minggu depan?"
Yaelah, minggu depan ada apa aja gue nggak tau.
"Hmm, udah."
"Oh, gitu ya, kirain belum. Gue masih belum dapet kelompok, nih."
Ya ampun, kasihan banget dia. Gue pengen banget nemenin. Hmm, apa sekarang saat yang tepat buat gue mulai terbuka sama dia?
"Eh.. Sebenarnya gue belum ada kelompok, sih."
"Loh, tadi katanya udah?"
"Itu.. Ada yang ngajak gue, tapi gue belum bilang iya. Gue sama lo aja, deh."
Wajahnya menunjukkan kegembiraan. Gila, makin cantik aja.
"Beneran? Makasih banget lho, Fan.."
Gue setengah tersenyum, setengah meringis.
"Iya, sama-sama."
Tuhan, bantu aku menemukan suaraku saat berinteraksi dengannya...

Wah, dia keren banget. Gue pikir orang macam dia cuma bisa maksimal kalau bekerja sendirian. Ternyata dia jago juga berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. Gue juga jadi nggak canggung lagi sama dia. Kami udah sering ngobrol ini itu, bahkan selera musik dia nggak jauh beda sama gue dan yang terpenting, dia sama sekali nggak menyalahkan hobi gue cabut kelas! Dia bilang asalkan nilai gue nggak jelek, sah-sah aja cabut kelas.. Ya Tuhan, ada di mana lagi cewek kayak gini? Makin banyak aja deh poin plus dia di mata gue...
"Oi, Fan! Udah belum?"
"Hah, apa?" Kaget gue, lagi enak-enak menikmati pemandangan dia, eh ini anak kingkong muncul.
"Itu karikaturnya, udah kelar?"
"Oh, iya sedikit lagi."
"Oke, buruan ya. Biar bisa dilanjut ke tahap berikutnya."
Rese aja sih, ngatur-ngatur segala. Gue tau waktu, kali. Eh sebentar, tahap berikutnya setelah karikatur ini selesai, bagian dia, kan? Asik, ada kesempatan ngobrol.. Oke, gue harus selesaikan ini secepat mungkin!
"Hai,"
"Eh, Fan, udah selesai?"
"Iya, udah. Nih," Dia mengambil hasil pekerjaan gue dan melanjutkannya. Entah mau diapain, memangnya tadi gue dengar pembagian kerjanya. Udahlah gue ngeliatin dia aja. 
"Lo ngapain ngeliatin gue kayak gitu?"
Hah? Tahu dari mana dia? Perasaan daritadi dia serius mengerjakan..
"Siapa yang ngeliatin lo? Geer.."
"Halah, nggak usah bohong. Setiap orang kalau diliatin sebegitunya, pasti ngerasa, Fan. Apalagi gue, sensitif banget, kalau ada yang ngeliatin pasi ngerasa."
Yah, ketahuan deh gue. Oke, gue coba keberuntungan gue.
"Ya gimana dong, masa ada cewek cantik di depan gue terus gue malah ngeliatin anak kingkong.." Eh, gue gombalin dia malah ngakak. Gak ngerti lagi..
"Gilaaa hahaha jahat banget lo sama Wahyu.. Ya ampun dia yang paling banyak kontribusinya loh di kelompok kita.."
"Yah, lo nggak dengar kalimat sebelumnya, ya?"
"Dengar, kok. Tapi sori aja, Fan, gue nggak mempan digombalin begitu. Kurang ah effortnya.." Waduh.. Kalau gini caranya, gue harus langsung ke inti, nih.
"Lo bilang lo selalu ngerasa kan kalau diliatin? Selama ini lo merasa nggak punya secret admirer?"
"Secret admirer? Hmm enggak tuh, gue nggak merasa menerima hadiah apa-apa, gue nggak merasa dikasih surat apa-apa, gue nggak merasa-"
"Secret admirer nggak selalu memberi aksi, non. Ada jenis secret admirer yang beneran secret. Benar-benar cuma mengagumi dari kejauhan.."
"Masa, ada yang kayak gitu?"
"Ada,"
"Contohnya?"
"Gue." Dia terdiam. Tangannya pun berhenti bekerja. Please, Dewi Fortuna, berpihaklah padaku saat ini.
Setelah beberapa detik yang terasa berabad-abad lamanya-eh nggak deh, beneran terasa beberapa detik kok- dia pun menjawab gue.
"Lo? Lo jadi secret admirer siapa, memangnya?"
"Lo. Sudah sejak lama gue memperhatikan lo, dari awal gue cuma tahu nama lo pas kelas sepuluh, semester dua gue mulai hapal wajah lo, kelas sebelas akhirnya sekelas sama lo, semester dua makin sering memperhatikan lo, sampai sekarang. Gue tahu tempat favorit lo berikut apa yang lo kerjakan di sana, makanan apa yang sering lo pesan di kantin, tempat lo turun setiap pagi, dan masih banyak lagi. Err.. Maaf gue terdengar seperti seorang stalker. Tapi serius, gue benar-benar kagum sama lo. Baru seminggu belakangan ini gue berani berinteraksi banyak sama lo. Biasanya, melihat lo pun gue menghindar. Setelah lebih sering ngobrol sama lo, gue merasa cocok sama lo. Lo semakin sempurna di mata gue. Gue tahu image gue nggak bagus soal hubungan asmara, tapi, gue nggak main-main kali ini. Lo....mau nggak jadi pacar gue?" Kali ini dia benar-benar terdiam, sungguh-sungguh tercengang. Butuh lebih dari satu menit bagi kesadarannya untuk  kembali ke tubuhnya. Dia sempat terlihat gelagapan.
"Eh, Fan, makasih lho.. Makasih sudah jadi pengagum gue, sudah sebegitu hapalnya kebiasaan gue, dan makasih atas semua perbuatan lain lo yang gue nggak tahu. Sama, Fan, gue juga baru seminggu belakangan ini tahu pribadi lo sebenarnya. Lo asik, Fan, nggak seperti kabar simpang siur yang gue dengar tentang lo. Gue juga merasa cocok sama lo. Gue...senang sahabatan sama lo. Tapi, gue belum merasa butuh hubungan yang lebih dari sahabat. Gue masih pengen belajar dulu yang bener, bikin orang tua gue bangga, dan masih banyak target gue yang lain, yang sulit tercapai kalau gue punya hubungan yang lebih dari sahabat. Lo mau kan Fan, jadi sahabat gue?" Ya Tuhan. Ini masih di ruang tamu rumah Wahyu, kan? Bukan di surga? Gue sadar dia barusan nolak gue, tapi kenapa dia makin cantik? Gue nggak sakit hati, gue malah lega dia nolak gue, mengingat gue masih mempertanyakan kesiapan gue untuk merasakan mimpi gue menjadi nyata. Apa dia bilang? Jadi sahabat? 
"Mau lah," jawab gue sambil nyengir sok keren. 
Gue siap jadi sahabat dia selama apapun yang dia perlukan untuk mencapai targetnya dan merasa butuh hubungan yang lebih dari sahabat. Mimpi memang butuh waktu dan usaha untuk menjadi nyata. Gue pun akan berusaha memantaskan diri dan menjadi seseorang yang dapat dia andalkan.
Begitulah, Dewi Fortuna sungguhan berpihak pada gue. Beliau dengan baik hatinya memberikan gue waktu untuk lebih menikmati indahnya persahabatan. Apalagi dengan dia.



Kamis, 25 September 2014

Analisis Pidato Soekarno di Semarang

Pidato di Semarang, 29 Juli 1956
Dalam pidatonya yang disebut-sebut sebagai Pidato Spektakuler itu, Soekarno berbicara mengenai manusia yang pada dasarnya merupakan pembuat sejarah, bukan hanya manusia-manusia di wilayah-wilayah maju seperti Amerika, Kanada, Italia, atau Swiss tetapi seluruh manusia di dunia. Tidak hanya manusia di negara-negara tersebut yang dapat mengukir sejarah dalam artian membuat prestasi, tetapi semua manusia di seluruh dunia termasuk manusia di Indonesia. Maka dari itu Bung Karno berusaha menanamkan pemahaman itu kepada rakyat Indonesia dengan tujuan menghidupkan semangat bangsa Indonesia untuk berkarya, membuat prestasi, mencetak sejarah, dengan menekankan perihal butuhnya manusia akan imajinasi untuk menjadi bangsa yang mempunyai sepak terjang hebat seperti yang beliau katakan:
“Mereka mengerti bahwa kita – atau mereka – djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai “imagination”,: “imagination” hebat, Saudara-saudara!!!”
Bung Karno memperingatkan bangsa Indonesia untuk selalu memperhatikan keadaan sekitar dan mengambil hikmah dari semua hal supaya dapat digunakan untuk membangun Negara dan Tanah Air Indonesia. Perhatikan bahwa di Negara seperti Amerika tidak ada hal seperti “Hollands denken”, maksudnya adalah pola pikir Belanda yang berprinsip “Thinking penny-wise, proud, and foolish”. Yang mana bangsa Indonesia mendapatkan pola pikir itu sebagai hasil penjajahan selama 350 tahun lamanya oleh Belanda. Pola pikir Belanda itu Bung Karno katakan tidak mempunyai imajinasi, tidak mempunyai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunyai keberanian untuk menjadi berbeda, sehingga tidak bisa menghasilkan fantasi-fantasi besar seperti yang bangsa Indonesia lihat di negara lain.
Nasihat yang Bung Karno sampaikan sejalan dengan salah satu perintah di Al-Quran untuk mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi pada manusia-manusia sebelumnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dan melakukan tindakan yang lebih bijak.
Bung Karno berharap pidatonya dapat memicu kesadaran bangsa Indonesia untuk bangkit dan membangun Indonesia. Terlihat  dari penekanannya pada kata “imagination” dan “manusia”. Apa hubungan kedua kata itu? Bung Karno dengan hebatnya mengulas kedua kata itu menjadi sebuah pidato yang panjang lebar. Hubungan kedua kata itu adalah bahwa manusia sebagai pembuat sejarah, perlu, harus, wajib mempunyai imajinasi untuk dapat membuat kemajuan seperti yang bangsa Indonesia lihat di negara-negara Barat seperti Amerika, Jerman, Italia dan yang lainnya. Bung Karno berusaha menyadarkan bangsa Indonesia dengan membandingkan kemajuan-kemajuan di negara-negara Barat dengan potensi serta kekayaan di Indonesia serta keberhasilan pendahulu bangsa Indonesia membuat bangunan semegah Candi Borobudur, bahwa Indonesia sangat bisa membuat kemajuan seperti itu juga bahkan lebih asalkan manusia di Indonesia dapat berimajinasi, lepas dari pola pikir yang monoton, yang disebutnya sebagai “Hollands denken”.
Bung Karno mengambil contoh pembuatan jembatan di Sungai Musi yang dibanggakan oleh Gubernur Sumatera Selatan, Pak Winarno, yang merupakan jembatan dengan banyak cagak. Menurut beliau, jika jembatan dibangun dengan imajinasi, tidak akan ada cagak-cagak itu. Berikut perkataan beliau yang menunjukkan hal itu:
“Perlu djembatan? Ja, bikin djembatan……tetapi djangan djembatan jang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan tjagak, Saudara-saudara, Ja , umpamanja kita di sungai Musi…….Tiga hari jang lalu saja ini ditempatnja itu lho Gubernur Sumatera Selatan – Pak Winarno di Palembang – Pak Winarno, hampir hampir saja kata dengan sombong, menundjukkan kepada saja “ini lho Pak! Djembatan ini sedang dibikin, djembatan jang melintasi Sungai Musi” – Saja diam sadja -“Sungai Ogan” – Saja diam sadja, sebab saja hitung-hitung tjagaknja itu. Lha wong bikin djembatan di Sungai Ogan sadja kok tjagak-tjagakan !!
Kalau bangsa dengan “imagination” zonder tjagak, Saudara-saudara !!”
Beliau menggambarkan bagaimana jembatan bagus yang seharusnya, yang tinggi, yang panjang dan hanya ada beberapa cagak saja, yang bisa dilewati kapal besar di bawahnya, seperti jembatan di San Farsisco. Jembatan yang seperti itulah hasil pembangunan yang dilakukan dengan imajinasi. Masih banyak contoh bangunan-bangunan besar lain yang beliau gambarkan.
Kemudian Bung Karno mengatakan bahwa bangsa Indonesia punya banyak kekayaan alam yang baru dieksplor permukaannya saja, yang berarti masih banyak lagi yang luput dari perhatian bangsa Indonesia. Bahwa bangsa Indonesia bisa lebih hebat dalam mengelola kekayaan alam dan menjadikannya berbagai prestasi untuk mengukir sejarah dan menjadi bangsa yang besar dan hebat.
Terakhir, beliau mengobarkan semangat bangsa Indonesia dengan mengatakan:
“Gali ! Bekerdja! Gali! Bekerdja! Dan kita adalah satu tanah air jang paling cantik di dunia.”


Rabu, 28 Mei 2014

Politik Etis

   Kerja rodi yang dilakukan bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda adalah semata-mata untuk kepentingan Belanda. Awalnya untuk mendukung kegiatan VOC, namun setelah VOC dibubarkan, Daendels menggunakan tenaga rakyat Indonesia secara paksa untuk membangun jalan dari Anyer hingga Panarukan untuk memudahkan transportasi pemerintah kolonial Belanda. Kemudian setelah Belanda menguasai Indonesia kembali pasca kekalahannya melawan Inggris dalam mempertahankan Pulau Jawa, pemerintah kolonial Belanda menggencarkan usahanya dalam menjual kekayaan Indonesia ke luar negeri. Seperti yang dilakukan Van der Capellen, menyewakan tanah-tanah rakyat Indonesia kepada pengusaha-pengusaha Eropa. Lalu pada masa Gubernur Jenderal Van den Bosch, kebijakan tanam paksa yang sangat menguntungkan Belanda namun merugikan rakyat Indonesia diterapkan. 1/5 lahan pertanian rakyat setiap desa harus ditanami tanaman ekspor yang kemudian hasilnya diberikan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk dijual ke luar negeri. Belanda mendapat keuntungan yang sangat besar dari hasil penjualan tanaman ekspor tersebut. Dengan keuntungan itu, Belanda dapat melunasi utang-utangnya, mengatasi masalah keuangan, hingga memulikan resesi ekonomi Belanda.

      Penderitaan rakyat Indonesia akibat kebijakan tanma paksa menarik simpati rakyat Belanda yang sudah mendapatkan ide keadilan, kemanusiaan, dan perlindungan sehingga mendorong munculnya berbagai kritik mengenai utang budi Belanda kepada rakyat Indonesia yang telah mengisi kekosoongan kas Belanda. Slaah satunya adalah Van Deventer yang menulis artikel "Een Eereschuld" atau "Utang Kehormatan" di majalah De Gids. Menurut Van Deventer, utang tersebut harus dibayar dengan mengobati penderitaan rakyat Indonesia melalui peningkatan kesejahteraan. Akibat berbagai kritik tersebut, pemerintah kolonial Belanda akhirnya menerapkan kebijakan Politik Etis yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia melalui Edukasi, Migrasi dan Irigasi. Dalam bidang pendidikan, Belanda membangun banyak sekolah di berbagai jenjang, juga membuka kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk belajar di Eropa maupun Timur Tengah. Dengan pendidikan tersebut, juga pengaruh ideologi yang berkembang di dunia seperti liberalisme, kemerdekaan, nasionalisme dan sebagainya, kaum terpelajar Indonesia memperoleh kesadaran mengenai keadaan bangsanya yang tertiindas oleh penjajahan Belanda. Kesadaran itu di kemudian hari membangkitkan semangat nasionalisme rakyat di berbagai kalangan untuk melepaskan diri dari penjajah, untuk memperoleh kemerdekaan. Kemudian mulai muncul pergerakan-pergerakan nasional untuk melawan Belanda.    

Sabtu, 11 Januari 2014

Tugas Sejarah: Good Memories (Kenangan Indah)

Kenangan indah pas liburan. Gue lebih pengen nyebutnya "Good Memories". Kenapa? Biar sama aja sama judul novel._.huehehe. Oke, dimulai aja.

Sebenarnya tugas buat nulis kenangan bahagia pas liburan tuh ngeselin. Bikin gue inget rumah lagi -w-
       Oke, pastinya kenangan bahagia dari sebuah liburan sekolah itu ya pas bagian keluar kota-nya, ya, kan? Liburan kali ini, gue pun begitu. Jadi tanggal 25 Desember, malam 26 itu gue naik kereta Taksaka malam ke Jogja. Berdua doang sama kakak sepupu gue yg terpaut umur cuma setahun. Detail penting, tuh. Berarti gue udah keluar kota tanpa orang tua naik btransportasi umum! Yeaay :3
      Nah, kami sampai di Stasiun Tugu, Yogyakarta, subuh-subuh jam 5-an. Kami dijemput sama pengurus mess AL di Jogja yaitu Mess Jalawira, namanya Pak Rohadi. Orangnya baiiiik banget, gaul lagi. Masa bilang gini ke gue "Sms aja ya  mbak kalau butuh apa-apa.." wk agak gak sesuai sama raut wajahnya yg datar banget-_-
       Habis itu kami jalan kaki ke Malioboro, cari sarapan. Gak tau seberapa jauhnya dari Mess ke Malioboro, nggak bisa ngira2 jarak. Jalan kaki sekitar setengah jam, ngelewatin taman budaya, taman pintar, bank yg bangunan Belanda (BNI dan Mandiri), trus ada benteng juga.. #lupabentengapa. Nah itu pertama kali gue ke Malioboro. Sekitar setengah 7 gitu, masih sepi. Kami nyusurin Malioboro cukup jauh, Mba Fida penasaran pengen makan gudeg. Kalo gue sih selain udah mulai pegel, plus udah nemu soto. Duduk lesehan dah gue. Trus ternyata tukang sotonya deketsama tukang gudeg :Db Abis makan, kami kembali ke mess jam 8-an. Kami istirahat di mess samapi jam 4 sore. Jam 5-nya kami keluar mess lagi, ke Alun-Alun Selatan. Iya, yg ada pohon beringin kembarnya itu :D Disana gue makan ayam bakar. Murah banget, masa cuma 15 ribu! Dari situ kami mampir lagi ke Malioboro, dan coba tebak! Suasananya beda banget sama waktu pagi, drastis. Kalo pagi sepi, malamnya ramai gak ketulungan. banyak pedagang kaki limayg jualan bros, gelang, ada juga yg jual makanan dan minuman. Dari yg jualannya lesehan, sampai toko yg berlantai pun ada. Tapi yg bagus-bagus tokonya jual baju. Banyaaak banget, benar-benar banyak sepanjang jalan Malioboro itu. Setelah gue telusuri, ternyata memang ada plang yg bunyinya "Pasar Sore Malioboro". Pantesan rame.. Kami kembali ke mess jam 10 malam. Satu-satunya detail mengganggu dari malam itu adalah tukang becak yg memaksa menunggui selama kami di Alun-Alun dan Malioboro. Bayangin aja, dari jam 5 sore sampai jam 10 malam. Ya gempor keles.. akhirnya kami menanggung kerugian waktu si tukang dengan bayaran 80 ribu. Benar-benar malak itu tukang. Siapa juga yg minta ditungguin coba!? Ya sudah ikhlasin aja, setahun sekali si tukang dapet banyak pendapatan.Kalo gak ikhlas yg dosa kami sendiri juga.
       Nah, trauma bayar becak, besoknya kami  nggak kemana-mana, sampai sorenya orang tua dan adik saya datang. Malamnya, kami ke Malioboro LAGI! Jadi total sudah 3 kali gue dan Mba Fida ke Malioboro dalam 2 hari, ckck. Disana kami makan lesehan, dan ibu saya belanja baju sangat banyak, yah biasanya ibu saya kalau belanja baju memang selalu banyak sih :D
            Nah, besoknya udah mulai seru nih Kami ke Keraton Jogja, abis itu ke Gunung Merapi! Siang-siang, sih.. Tapi tidak mengurangi keindahan panoramanya. Merapi kan sudah meletus, jadi ceritanya kami naik jip melewati bekas aliran laharnya yg sekarang sedang diangkuti bebatuannya. Kami juga mengunjungi salah satu rumah yg terkena dampak letusan Merapi dan didalamnya ada benda-benda yg meleleh termasuk jam dinding yg terhenti oada pukul setengah 1 dini hari menunjukkan waktu terjadinya letusan. Ada pintu yg hanya kerangkanya, motor sudah tinggal besinya, dan sapi yg tinggal tulang belulang. Setelah dari Merapi, rencana kami ingin ke Candi Prambanan lalu ke pantai Parang Tritis, tetapi karena Candi Prambanan terlihat ramai, setelah makan di dekat situ kami (atau lebih tepatnya gue) memutuskan untuk mengejar sun set di pantai Parang Tritis yg ternyata tidak keburu karena jarak Prambanan - Parang Tritis yg terlampau jauhnya ditambah lampu lalu lintas yg durasi waktunya 2 menit untuk warna merah dan 30 detik untuk warna hijau. Ya, itulah salah satu sis menyebalkan dari Jogja. Meskipun demikian, ketika kami tiba di tujuan, semburat-semburat warna jingga matahari tenggelam masih terlihat walau malam mulai menutupi langit dengan jubahnya. Setelah berfoto-foto sebentar, kami pun pulang ke Mess Jalawira dengan puas dan bahkan sampai pukul 10 malam. Sebenarnya saya sedikit dihujat oleh yg lain karena obsesif mengejar sun set, harusnya ke Prambanan saja nggak masalah. Lalu kami merencanakan untuk berangkat (check out) subuh-subuh, maka kami merapikan barang-barang kami malam itu juga sebelum tidur.
       Esoknya sedikit-eh banyak deng- meleset perkiraan waktu kami berangkat. Yg rencananya abis subuh, jadi jam 8 atau 9 pagi gitu. Hari itu kami ke Dieng. Yap, dataran tinggi Dieng. Sebelum menuju ke sana, kami mampir dulu membeli oleh-oleh yaitu bakpia patok. Lalu kami meluncur ke Dieng melalui Wonosobo. Subhanallah, dikelilingi gunung! Indah dan dingin banget. Kami tiba di tujuan jam 1 siang. Lalu kami makan dan sholat, lalu mulai mengunjungi tempat-tempat wisata yg bisa dikunjungi. Seperti telaga warna, air belerang, dan kompleks Candi Arjuna. Candinya tidak terlalu besar, cenderung kecil malah. Tetapi latar belakang pemandangannya, beh... cantik nian :Db Kami meneruskan perjalanan menuju ke Tegal pukul 5 sore. Seharusnya melalui beberapa kota, namun karena bapak saya memilih melalui jalan alternatif, kami tidak melalui kota-kota. Gantinya, jalur yg kami lewati adalah GUNUNG! Sungguhan gunung, tikungan bertebaran. dan gemericik air terjun terdengar dimana-mana. Plus kabut yg senantiasa menyelubungi, lengkap sudah ekstrimnya perjalanan kami. Menyusuri jalanan sepi yg semakin gelap tanpa lampu dan bukan merupakan pemukiman, mobil kami sendirian. Tidak terbayangkan lega yg kami rasakan kala berpapasan dengan motor atau mobil lain. Meski begitu, tetap tidak ada kendaraan yg tampak di depan atau di belakang kami di jalur yg sama. Intinya, jalanan berlika-liku itu sepi. Azan isya' berkumandang ketika akhirnya ban mobil kami menyentuh permukaan aspal perkampungan. Sebelum menemui perkampungan tersebut, kerap kali kami dikecewakan oleh tiang lampu yg kami kira merupakan pertanda bahwa kami sudah dekat dengan perkampungan. Setelah berhenti sebentar, kami melanjutkan perjalanan setelah keluar dari jalur gunung itu. Sudah memasuki Pekalongan! Benar-benar jalan pintas. Tidak sampai 2 jam kemudian, kami tiba di Tegal, tujuan kami berikutnya. Disana kami (sekeluarga minus Mba Fida) bermalam di mess langganan kami  yaitu Mess Baruna. Iya, Mess Jalawira juga sejenis dengan Mess Baruna itu, yaitu mess milik pangkalan TNI AL yg memang untuk disewakan sebagai penginapan. Tidak lupa sebelumnya makn soto sedap malam khas Tegal :Db
     Keesokannya, kami baru mulai bangkit beraktivitas (selain makan pagi tentunya) jam 11 siang, hehehe... Abis capeknya puol! Bahkan papa, hari itu nggak kemana-mana, manggil tukang pijit. Kalau gue, Nita sama Mama sih ke Pacific Mall, creambath, malahan Mama sampe refleksi segala. Darisana, kami mampir makan sate kambing dulu sebelum pulang. Selain soto sedap malam, Tegal juga terkenal akan sate kambing mudanya.. Lalu sorenya, gue, Nita, Mba Fida, Rima, Maya, Azka, Hafiy, Mba Yuli dan Om Edi, ke... PAI (Pantai Alam Indah)!! Itu masih sore, jam 5. Tapi mendung :( jadi ga dapet sun set deh-,- Jadi secara keseluruhan, gue dua kali ke gunung dua kali ke pantai! Mantap :Db
    Trus besoknya tanggal 31 Desember, hari terakhir di 2013, kami pulang kembali ke kediaman kami di Jakarta :)

   Sekian cuplikan kenangan bahagia dari 2 minggu liburan semester 1 kemarin. Ini cerita gue, gimana cerita lo?;)

Selasa, 20 Agustus 2013

Random Topic

Random itu acak, sis. Jadi? Ya inilah yg melintas di pikiran gue.
Waktu. Iya, klise banget. Udah bejibun artikel fiksi maupun non fiksi yg ngebahas hal itu, waktu.
Waktu... kadang teman, kadang musuh, kadang nggak dua-duanya. Kadang dia cuma pihak ketiga yg gak ikutan terlibat di kehidupan kita, tapi bener-bener mempengaruhi. Tapi udah, sebatas itu doang, mempengaruhi. Selepas itu, terserah kitanya juga gimana menyikapi dia. Mau dibiarin aja dia acak-acak hidup kita? Bikin kita sedih, nyesek, nyesel, atau entah apa lagi beribu macam ungkapan perasaan sejenis itu? Atau mau pasrah, seneng alhamdulillah sedih terima? Ya bagus juga sih, bersyukur namanya. Tapi kita manusia, bro, dikasih akal sama Allah. Buat apa kalo kita cuma ngejalanin yg ada? Seyogyanya kita berusaha menghidupkan kehidupan kita.


Walaupun gitu, waktu ini bermanfaat juga. Marah, jengkel, sedih, dan perasaan buruk lain yg bercokol di diri kita hilangnya gimana? Dengan waktu. Waktu juga yg ngasih kita banyak pengalaman yg dengan pengalaman itu, ngajarin kita untuk jadi dewasa. So, secara nggak langsung waktu ikut berperan dalam hal perkembangan kedewasaan kita.
Kadang kita berusaha mengerahkan segenap kekuatan otot dan otak buat ngelawan waktu, tapi nggak jarang juga kita gunakan segenap kekuatan kita itu untuk memperjuangkan waktu. Bahkan sering, disaat kita nggak kepikiran, waktu datang menyelamatkan hal yg lagi mati-matian kita pertahankan. Atau mungkin kita baru menyadari, bahwa selama ini yg kita lakukan hanyalah menyia-nyiakan waktu untuk hal yg nggak begitu penting, yg harusnya bisa digunakan untuk hal lain yg jauh lebih penting. Apalagi kalau selama kita menyia-nyiakan waktu yg ada, malah ada hal lain yg membuat kita semakin menyalahkan waktu. Padahal, siapa yg salah? Enak juga ya, jadi waktu. Gimanapun dia bertingkah, nggak ada yg berkuasa untuk menyalahkan dia. Mau menyalahkan juga, harus bagaimana? Malah waktu juga yg menyembuhkan kita, membantu kita menata kembali sesuatu yg sudah berantakan. Yg ada tinggal....kita. Jiwa kita. Hati kita. Pikiran kita. Akal kita. Yg berkolaborasi untuk menciptakan sebuah sistem di kepala kita agar menemukan titik terang.
Waktu itu.....abstrak. Ya, abstrak. Jelaslah, nggak ada wujudnya, nggak konkrit. Terus kenapa waktu bisa mengendalikan kita? Gimana caranya? Semua pertanyaan bakal ditemuin jawabannya sama kita masing-masing. Ya, tepat, berujung pada satu kalimat. Itulah kekuasaan Allah :-)

Hoho, that's it. This post was really random. I'm sorry, keep strong to read my posts. LOL =))

Kamis, 15 Agustus 2013

The Second Year

Wah.. Udah lama nih ya gue gak nge-post di blog ini. Sedikit lebih sering aktif di blog kelas, sih. Abis asikan disana, banyak yg liat hehe xD #eh.
Nah, sekarang ini gue udah memasuki tahun kedua bersekolah di IC. Gimana rasanya? Lamaaaaaa banget. Kirain udah mau lulus, taunya baru mau setahun, ck.
Setahun di IC berhasil bikin gue berpendapat bahwa kehidupan SMP/MTs jauh beda dengan kehidupan SMA/MA. Buat bikin acara nih, kalo di SMP/MTs dibantuin guru segala macemnya, kita tinggal bikin program, kalo di SMA...bah gak sembarangan.. Mau bikin program? Lo pikirin juga tuh biaya, panitia, keamanan, pertanggungjawaban, semuanya! Jadi kalo pengin bikin program ya harus komitmen sama temen2 yg emang beneran mau, dan mampu. Apalagi di IC tuh siswanya dikit. Makin susah deh nyari SDM alias Sumber Daya Manusia yg berkualitas. Soal pelajaran, udah emang dasarnya SMA lebih susah dari SMP, ditambah lagi ini IC bro, yg emang...yah begitulah, dapet KKM aja udah nangis bahagia. Terus, soal organisasi dan ekskulnya. Gak jauh beda sama program/acara, semua-muanya  tuh yg mikirin, jalananin dan pertanggungjawabin kita, siswa. Guru mah tinggal terima laporan dan tanya2 kenapa ini nggak beres, kenapa itu ada masalah, kenapa anu terhambat, dan yg lainnya. Mana kalo mau izin buat kelancaran acara aja susaahh banget. Udah aja siswa yg ngelakuin semuanya, guru tinggal ngijinin aja kok repot. #pengalamanpribadiwk. Organisasi itu mencakup ke dalam dan ke luar. Iya buat acara ngundang orang luar IC, iya buat program anak2 ICnya. Bosen kan tuh udah asrama, pelajaran susahna amit-amit, tv hp dan gadget apapun dilarang keras, masa gaada program apa2. Organisasi di IC kok gue liatnya agak beda sama di SMA lain. Yah, walaupun gue sendiri juga belom seberapa tau gimana yg di SMA lain hehe. Di IC, lebih penting jadi panitia acar/program, daripada jadi anggota organisasi itu sendiri. Yg bikin beda, kalo panitia acara/program gak pake periode waktu, dan nggak rutin, kalo pengurus OSIS baru rutin. Yah bukan berarti gak berpengaruh juga. Tetep, entah kenapa dimanapun itu anggota organisasi itu selalu dipandang lebih tinggi posisinya dibanding siswa biasa. Di IC pun begitu, walaupun sedikit samar tapi tetep ada. Gue, sebagai siswa yg bukan anggota organisasi apapun, sedikit banyak merasa begitu. Overall, organisasi IC itu TOP. Perihal ekskulnya...nah itu sudah sedikit terabaikan. Setahun gue disana, yg gue liat aktif itu cuma taekwondo, paskibra, sesuatu bela diri, jurassic, apa lagi? Sepenglihatam gue sih itu, nggak tau apa gue yg jarang bersosialisasi apa gimana.
Satu kesamaan kehidupan SMP sama SMA (buat gue, dan ini sedikit diluar konteks): gue tetep gapunya orang kepercayaan dimana gue bakal saling berbagi apapun dengan orang itu, susah apalagi seneng.

Okay, sebenernya gue mau bikin post yg ada foto kronologinya, tapi secara itu harusnya direncanakan lebih dulu biar bisa ngumpulin fotonya. Sedangkan ini.....spontan(?) karena ngeliat blog ini berdebu dan penuh sarang laba-laba dan backgroundnya masih sumbangsih dari blogger huehehehe. Nanti gue bikin post lagi deh yg lebih bermanfaat. Sekian, 안녕^^

Kamis, 11 April 2013

Gagal?

Sekali lagi aku menyadari, diriku tidak lagi berdaya atas semua ini. Sekali lagi kusadari, diriku tidak lagi bisa memegang kendali tentang hal ini. Sekali lagi aku menyadari, akulah yg salah dalam kasus ini. Sekali lagi aku menyadari, aku tidak lagi bisa memperbaiki ketidakbenaran ini. Ini salah. Aku tidak bisa. Sekali lagi aku menyadari, bahwa aku terlambat menyadari semua ini. Terakhir kali kusadari, bahwa aku........gagal.