Zzzzt, zzzt, zzzzt..
Winda is calling..
Aduh, anak ini nggak tahu waktu banget ya neleponnya. Setengah hati, gue meninggalkan posisi strategis gue.
"Ya, Win?"
"Kamu di mana? Katanya mau jemput aku? Sedikit lagi aku selesai, nih. Habis itu kita makan, ya.."
"Iya, iya ini lagi di jalan."
"Eh jangan makan deh, temani aku ke salon aja, oke?"
"Iya, terserah kamu aja."
"Kok terserah, sih? Kok kamu iya iya aja, sih? Kamu nggak ada ide lain, apa? Bosen ya sama aku?"
Hhhh.. Sudahlah, cukup lama aku mendengarkan nenek cerewet ini.
"Nah, itu kamu tau."
"Kamu bilang apa? Kamu bosen sama aku? Beneran?"
"Aku hanya mengiyakan pertanyaanmu, Win. Kamu pasti sakit hati, kan? Maafin aku ya, kita sudahi aja. Kamu pasti dapat penggantiku yang berkali lipat jauh lebih baik daripada aku. Bye,"
"Eh, fan.. Irfan!"
Tut.. Tut.. Tut..
Fiuh, selesai. Eh, ke mana perginya dia? Kok tahu-tahu sudah nggak ada sih? Baiklah, mungkin besok dia ke sini lagi.
"Fan, tolong bawakan file ini ke ruangan Pak Arya, ya. Terima kasih,"
Yah, kena lagi deh gue. Okelah, hitung-hitung bantu orang tua.
"Baik, Bu."
Gue keluar dari kelas dan menuju ruang guru. Eh, itu bukannya dia ya? Ya ampun, kenapa dia celingukan begitu? Mampus, dia ngeliat gue. Ngapain dia nyamperin gue? Aduh gue mesti cepat-cepat kabur. Dengan kecepatan meningkat drastis, gue berjalan melewati dia begitu saja menuju ruang guru. Padahal sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu ke gue. Bodo amat deh, lagian kenapa harus gue coba? Kan ada banyak orang selain gue. Lagi pula mati aja gue kalo dia beneran nanya ke gue. Memangnya gue bisa jawab?
"Hai, Ris."
"Oh, halo Fan. Lo ngapain di sini?"
"Pengen ketemu lo aja. Nggak boleh?"
"Ngapain ketemu gue?"
"Loh, lo gimana sih. Semua orang tuh senang kalo pacarnya pengen ketemu. Nah elo, malahan menginterogasi."
"Ya, abis kayaknya kita udah sering ngobrol via telepon, sms, chatting di media sosial manapun, masa lo pengen ketemu gue lagi?"
Sableng nih cewek, masa bosen sama gue?
"Lo bisa pergi, nggak? Gue pengen konsen belajar, nih. Sedikit lagi ujian."
"Pergi? Lo pengen gue pergi?"
Riska menganggukkan kepala. Kacamatanya ikut turun seiring anggukan kepalanya. Ampun, kenapa gue bisa nembak dia sih?
"Oke, gue pergi. Tapi gue nggak kembali lagi, ya."
"Maksud lo, lo mau kita putus?" Riska terlihat bingung. Rasain, sok jual mahal sih.
"Yap," Riska masih mengerutkan kening. Tak lama kerutannya mulai hilang, digantikan senyumnya yang semakin lama semakin cerah.
"Akhirnya.. Gue menunggu kapan lo bosen sama gue. Sebenarnya udah dari dua minggu lalu gue pengen konsen belajar. Tapi gue nggak tega ngomongnga, lo baik banget sih. Oh ya, makasih juga ya lo udah mutusin gue. Lo benar-benar mempermudah gue. Gue jadi nggak perlu merasa bersalah sama lo." Selesai bicara begitu, Riska pun berlalu dari hadapan gue.
Gue ternganga. Apa-apaan?
Gue berpapasan sama dia di perpustakaan. Nggak lucu banget, sih. Sekali-kalinya gue ke sini, malah ketemu dia. Sumpah, gue cuma mau meminjam buku referensi tugas. Kenapa harus papasan sama dia? Kalau dia negur gue gimana? Ah, pura-pura nggak liat aja, deh.
"Um, Fan?"
Aduh, terlanjur pula gue berhenti. Kepalang basah, bro.
"Ya, kenapa?"
"Lo udah punya kelompok buat minggu depan?"
Yaelah, minggu depan ada apa aja gue nggak tau.
"Hmm, udah."
"Oh, gitu ya, kirain belum. Gue masih belum dapet kelompok, nih."
Ya ampun, kasihan banget dia. Gue pengen banget nemenin. Hmm, apa sekarang saat yang tepat buat gue mulai terbuka sama dia?
"Eh.. Sebenarnya gue belum ada kelompok, sih."
"Loh, tadi katanya udah?"
"Itu.. Ada yang ngajak gue, tapi gue belum bilang iya. Gue sama lo aja, deh."
Wajahnya menunjukkan kegembiraan. Gila, makin cantik aja.
"Beneran? Makasih banget lho, Fan.."
Gue setengah tersenyum, setengah meringis.
"Iya, sama-sama."
Tuhan, bantu aku menemukan suaraku saat berinteraksi dengannya...
Wah, dia keren banget. Gue pikir orang macam dia cuma bisa maksimal kalau bekerja sendirian. Ternyata dia jago juga berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. Gue juga jadi nggak canggung lagi sama dia. Kami udah sering ngobrol ini itu, bahkan selera musik dia nggak jauh beda sama gue dan yang terpenting, dia sama sekali nggak menyalahkan hobi gue cabut kelas! Dia bilang asalkan nilai gue nggak jelek, sah-sah aja cabut kelas.. Ya Tuhan, ada di mana lagi cewek kayak gini? Makin banyak aja deh poin plus dia di mata gue...
"Oi, Fan! Udah belum?"
"Hah, apa?" Kaget gue, lagi enak-enak menikmati pemandangan dia, eh ini anak kingkong muncul.
"Itu karikaturnya, udah kelar?"
"Oh, iya sedikit lagi."
"Oke, buruan ya. Biar bisa dilanjut ke tahap berikutnya."
Rese aja sih, ngatur-ngatur segala. Gue tau waktu, kali. Eh sebentar, tahap berikutnya setelah karikatur ini selesai, bagian dia, kan? Asik, ada kesempatan ngobrol.. Oke, gue harus selesaikan ini secepat mungkin!
"Hai,"
"Eh, Fan, udah selesai?"
"Iya, udah. Nih," Dia mengambil hasil pekerjaan gue dan melanjutkannya. Entah mau diapain, memangnya tadi gue dengar pembagian kerjanya. Udahlah gue ngeliatin dia aja.
"Lo ngapain ngeliatin gue kayak gitu?"
Hah? Tahu dari mana dia? Perasaan daritadi dia serius mengerjakan..
"Siapa yang ngeliatin lo? Geer.."
"Halah, nggak usah bohong. Setiap orang kalau diliatin sebegitunya, pasti ngerasa, Fan. Apalagi gue, sensitif banget, kalau ada yang ngeliatin pasi ngerasa."
Yah, ketahuan deh gue. Oke, gue coba keberuntungan gue.
"Ya gimana dong, masa ada cewek cantik di depan gue terus gue malah ngeliatin anak kingkong.." Eh, gue gombalin dia malah ngakak. Gak ngerti lagi..
"Gilaaa hahaha jahat banget lo sama Wahyu.. Ya ampun dia yang paling banyak kontribusinya loh di kelompok kita.."
"Yah, lo nggak dengar kalimat sebelumnya, ya?"
"Dengar, kok. Tapi sori aja, Fan, gue nggak mempan digombalin begitu. Kurang ah effortnya.." Waduh.. Kalau gini caranya, gue harus langsung ke inti, nih.
"Lo bilang lo selalu ngerasa kan kalau diliatin? Selama ini lo merasa nggak punya secret admirer?"
"Secret admirer? Hmm enggak tuh, gue nggak merasa menerima hadiah apa-apa, gue nggak merasa dikasih surat apa-apa, gue nggak merasa-"
"Secret admirer nggak selalu memberi aksi, non. Ada jenis secret admirer yang beneran secret. Benar-benar cuma mengagumi dari kejauhan.."
"Masa, ada yang kayak gitu?"
"Ada,"
"Contohnya?"
"Gue." Dia terdiam. Tangannya pun berhenti bekerja. Please, Dewi Fortuna, berpihaklah padaku saat ini.
Setelah beberapa detik yang terasa berabad-abad lamanya-eh nggak deh, beneran terasa beberapa detik kok- dia pun menjawab gue.
"Lo? Lo jadi secret admirer siapa, memangnya?"
"Lo. Sudah sejak lama gue memperhatikan lo, dari awal gue cuma tahu nama lo pas kelas sepuluh, semester dua gue mulai hapal wajah lo, kelas sebelas akhirnya sekelas sama lo, semester dua makin sering memperhatikan lo, sampai sekarang. Gue tahu tempat favorit lo berikut apa yang lo kerjakan di sana, makanan apa yang sering lo pesan di kantin, tempat lo turun setiap pagi, dan masih banyak lagi. Err.. Maaf gue terdengar seperti seorang stalker. Tapi serius, gue benar-benar kagum sama lo. Baru seminggu belakangan ini gue berani berinteraksi banyak sama lo. Biasanya, melihat lo pun gue menghindar. Setelah lebih sering ngobrol sama lo, gue merasa cocok sama lo. Lo semakin sempurna di mata gue. Gue tahu image gue nggak bagus soal hubungan asmara, tapi, gue nggak main-main kali ini. Lo....mau nggak jadi pacar gue?" Kali ini dia benar-benar terdiam, sungguh-sungguh tercengang. Butuh lebih dari satu menit bagi kesadarannya untuk kembali ke tubuhnya. Dia sempat terlihat gelagapan.
"Eh, Fan, makasih lho.. Makasih sudah jadi pengagum gue, sudah sebegitu hapalnya kebiasaan gue, dan makasih atas semua perbuatan lain lo yang gue nggak tahu. Sama, Fan, gue juga baru seminggu belakangan ini tahu pribadi lo sebenarnya. Lo asik, Fan, nggak seperti kabar simpang siur yang gue dengar tentang lo. Gue juga merasa cocok sama lo. Gue...senang sahabatan sama lo. Tapi, gue belum merasa butuh hubungan yang lebih dari sahabat. Gue masih pengen belajar dulu yang bener, bikin orang tua gue bangga, dan masih banyak target gue yang lain, yang sulit tercapai kalau gue punya hubungan yang lebih dari sahabat. Lo mau kan Fan, jadi sahabat gue?" Ya Tuhan. Ini masih di ruang tamu rumah Wahyu, kan? Bukan di surga? Gue sadar dia barusan nolak gue, tapi kenapa dia makin cantik? Gue nggak sakit hati, gue malah lega dia nolak gue, mengingat gue masih mempertanyakan kesiapan gue untuk merasakan mimpi gue menjadi nyata. Apa dia bilang? Jadi sahabat?
"Mau lah," jawab gue sambil nyengir sok keren.
Gue siap jadi sahabat dia selama apapun yang dia perlukan untuk mencapai targetnya dan merasa butuh hubungan yang lebih dari sahabat. Mimpi memang butuh waktu dan usaha untuk menjadi nyata. Gue pun akan berusaha memantaskan diri dan menjadi seseorang yang dapat dia andalkan.
Begitulah, Dewi Fortuna sungguhan berpihak pada gue. Beliau dengan baik hatinya memberikan gue waktu untuk lebih menikmati indahnya persahabatan. Apalagi dengan dia.
