Kamis, 25 September 2014

Analisis Pidato Soekarno di Semarang

Pidato di Semarang, 29 Juli 1956
Dalam pidatonya yang disebut-sebut sebagai Pidato Spektakuler itu, Soekarno berbicara mengenai manusia yang pada dasarnya merupakan pembuat sejarah, bukan hanya manusia-manusia di wilayah-wilayah maju seperti Amerika, Kanada, Italia, atau Swiss tetapi seluruh manusia di dunia. Tidak hanya manusia di negara-negara tersebut yang dapat mengukir sejarah dalam artian membuat prestasi, tetapi semua manusia di seluruh dunia termasuk manusia di Indonesia. Maka dari itu Bung Karno berusaha menanamkan pemahaman itu kepada rakyat Indonesia dengan tujuan menghidupkan semangat bangsa Indonesia untuk berkarya, membuat prestasi, mencetak sejarah, dengan menekankan perihal butuhnya manusia akan imajinasi untuk menjadi bangsa yang mempunyai sepak terjang hebat seperti yang beliau katakan:
“Mereka mengerti bahwa kita – atau mereka – djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai “imagination”,: “imagination” hebat, Saudara-saudara!!!”
Bung Karno memperingatkan bangsa Indonesia untuk selalu memperhatikan keadaan sekitar dan mengambil hikmah dari semua hal supaya dapat digunakan untuk membangun Negara dan Tanah Air Indonesia. Perhatikan bahwa di Negara seperti Amerika tidak ada hal seperti “Hollands denken”, maksudnya adalah pola pikir Belanda yang berprinsip “Thinking penny-wise, proud, and foolish”. Yang mana bangsa Indonesia mendapatkan pola pikir itu sebagai hasil penjajahan selama 350 tahun lamanya oleh Belanda. Pola pikir Belanda itu Bung Karno katakan tidak mempunyai imajinasi, tidak mempunyai konsepsi-konsepsi besar, tidak mempunyai keberanian untuk menjadi berbeda, sehingga tidak bisa menghasilkan fantasi-fantasi besar seperti yang bangsa Indonesia lihat di negara lain.
Nasihat yang Bung Karno sampaikan sejalan dengan salah satu perintah di Al-Quran untuk mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi pada manusia-manusia sebelumnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama dan melakukan tindakan yang lebih bijak.
Bung Karno berharap pidatonya dapat memicu kesadaran bangsa Indonesia untuk bangkit dan membangun Indonesia. Terlihat  dari penekanannya pada kata “imagination” dan “manusia”. Apa hubungan kedua kata itu? Bung Karno dengan hebatnya mengulas kedua kata itu menjadi sebuah pidato yang panjang lebar. Hubungan kedua kata itu adalah bahwa manusia sebagai pembuat sejarah, perlu, harus, wajib mempunyai imajinasi untuk dapat membuat kemajuan seperti yang bangsa Indonesia lihat di negara-negara Barat seperti Amerika, Jerman, Italia dan yang lainnya. Bung Karno berusaha menyadarkan bangsa Indonesia dengan membandingkan kemajuan-kemajuan di negara-negara Barat dengan potensi serta kekayaan di Indonesia serta keberhasilan pendahulu bangsa Indonesia membuat bangunan semegah Candi Borobudur, bahwa Indonesia sangat bisa membuat kemajuan seperti itu juga bahkan lebih asalkan manusia di Indonesia dapat berimajinasi, lepas dari pola pikir yang monoton, yang disebutnya sebagai “Hollands denken”.
Bung Karno mengambil contoh pembuatan jembatan di Sungai Musi yang dibanggakan oleh Gubernur Sumatera Selatan, Pak Winarno, yang merupakan jembatan dengan banyak cagak. Menurut beliau, jika jembatan dibangun dengan imajinasi, tidak akan ada cagak-cagak itu. Berikut perkataan beliau yang menunjukkan hal itu:
“Perlu djembatan? Ja, bikin djembatan……tetapi djangan djembatan jang selalu tiap tiap sepuluh meter dengan tjagak, Saudara-saudara, Ja , umpamanja kita di sungai Musi…….Tiga hari jang lalu saja ini ditempatnja itu lho Gubernur Sumatera Selatan – Pak Winarno di Palembang – Pak Winarno, hampir hampir saja kata dengan sombong, menundjukkan kepada saja “ini lho Pak! Djembatan ini sedang dibikin, djembatan jang melintasi Sungai Musi” – Saja diam sadja -“Sungai Ogan” – Saja diam sadja, sebab saja hitung-hitung tjagaknja itu. Lha wong bikin djembatan di Sungai Ogan sadja kok tjagak-tjagakan !!
Kalau bangsa dengan “imagination” zonder tjagak, Saudara-saudara !!”
Beliau menggambarkan bagaimana jembatan bagus yang seharusnya, yang tinggi, yang panjang dan hanya ada beberapa cagak saja, yang bisa dilewati kapal besar di bawahnya, seperti jembatan di San Farsisco. Jembatan yang seperti itulah hasil pembangunan yang dilakukan dengan imajinasi. Masih banyak contoh bangunan-bangunan besar lain yang beliau gambarkan.
Kemudian Bung Karno mengatakan bahwa bangsa Indonesia punya banyak kekayaan alam yang baru dieksplor permukaannya saja, yang berarti masih banyak lagi yang luput dari perhatian bangsa Indonesia. Bahwa bangsa Indonesia bisa lebih hebat dalam mengelola kekayaan alam dan menjadikannya berbagai prestasi untuk mengukir sejarah dan menjadi bangsa yang besar dan hebat.
Terakhir, beliau mengobarkan semangat bangsa Indonesia dengan mengatakan:
“Gali ! Bekerdja! Gali! Bekerdja! Dan kita adalah satu tanah air jang paling cantik di dunia.”


Rabu, 28 Mei 2014

Politik Etis

   Kerja rodi yang dilakukan bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda adalah semata-mata untuk kepentingan Belanda. Awalnya untuk mendukung kegiatan VOC, namun setelah VOC dibubarkan, Daendels menggunakan tenaga rakyat Indonesia secara paksa untuk membangun jalan dari Anyer hingga Panarukan untuk memudahkan transportasi pemerintah kolonial Belanda. Kemudian setelah Belanda menguasai Indonesia kembali pasca kekalahannya melawan Inggris dalam mempertahankan Pulau Jawa, pemerintah kolonial Belanda menggencarkan usahanya dalam menjual kekayaan Indonesia ke luar negeri. Seperti yang dilakukan Van der Capellen, menyewakan tanah-tanah rakyat Indonesia kepada pengusaha-pengusaha Eropa. Lalu pada masa Gubernur Jenderal Van den Bosch, kebijakan tanam paksa yang sangat menguntungkan Belanda namun merugikan rakyat Indonesia diterapkan. 1/5 lahan pertanian rakyat setiap desa harus ditanami tanaman ekspor yang kemudian hasilnya diberikan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk dijual ke luar negeri. Belanda mendapat keuntungan yang sangat besar dari hasil penjualan tanaman ekspor tersebut. Dengan keuntungan itu, Belanda dapat melunasi utang-utangnya, mengatasi masalah keuangan, hingga memulikan resesi ekonomi Belanda.

      Penderitaan rakyat Indonesia akibat kebijakan tanma paksa menarik simpati rakyat Belanda yang sudah mendapatkan ide keadilan, kemanusiaan, dan perlindungan sehingga mendorong munculnya berbagai kritik mengenai utang budi Belanda kepada rakyat Indonesia yang telah mengisi kekosoongan kas Belanda. Slaah satunya adalah Van Deventer yang menulis artikel "Een Eereschuld" atau "Utang Kehormatan" di majalah De Gids. Menurut Van Deventer, utang tersebut harus dibayar dengan mengobati penderitaan rakyat Indonesia melalui peningkatan kesejahteraan. Akibat berbagai kritik tersebut, pemerintah kolonial Belanda akhirnya menerapkan kebijakan Politik Etis yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia melalui Edukasi, Migrasi dan Irigasi. Dalam bidang pendidikan, Belanda membangun banyak sekolah di berbagai jenjang, juga membuka kesempatan bagi pemuda Indonesia untuk belajar di Eropa maupun Timur Tengah. Dengan pendidikan tersebut, juga pengaruh ideologi yang berkembang di dunia seperti liberalisme, kemerdekaan, nasionalisme dan sebagainya, kaum terpelajar Indonesia memperoleh kesadaran mengenai keadaan bangsanya yang tertiindas oleh penjajahan Belanda. Kesadaran itu di kemudian hari membangkitkan semangat nasionalisme rakyat di berbagai kalangan untuk melepaskan diri dari penjajah, untuk memperoleh kemerdekaan. Kemudian mulai muncul pergerakan-pergerakan nasional untuk melawan Belanda.    

Sabtu, 11 Januari 2014

Tugas Sejarah: Good Memories (Kenangan Indah)

Kenangan indah pas liburan. Gue lebih pengen nyebutnya "Good Memories". Kenapa? Biar sama aja sama judul novel._.huehehe. Oke, dimulai aja.

Sebenarnya tugas buat nulis kenangan bahagia pas liburan tuh ngeselin. Bikin gue inget rumah lagi -w-
       Oke, pastinya kenangan bahagia dari sebuah liburan sekolah itu ya pas bagian keluar kota-nya, ya, kan? Liburan kali ini, gue pun begitu. Jadi tanggal 25 Desember, malam 26 itu gue naik kereta Taksaka malam ke Jogja. Berdua doang sama kakak sepupu gue yg terpaut umur cuma setahun. Detail penting, tuh. Berarti gue udah keluar kota tanpa orang tua naik btransportasi umum! Yeaay :3
      Nah, kami sampai di Stasiun Tugu, Yogyakarta, subuh-subuh jam 5-an. Kami dijemput sama pengurus mess AL di Jogja yaitu Mess Jalawira, namanya Pak Rohadi. Orangnya baiiiik banget, gaul lagi. Masa bilang gini ke gue "Sms aja ya  mbak kalau butuh apa-apa.." wk agak gak sesuai sama raut wajahnya yg datar banget-_-
       Habis itu kami jalan kaki ke Malioboro, cari sarapan. Gak tau seberapa jauhnya dari Mess ke Malioboro, nggak bisa ngira2 jarak. Jalan kaki sekitar setengah jam, ngelewatin taman budaya, taman pintar, bank yg bangunan Belanda (BNI dan Mandiri), trus ada benteng juga.. #lupabentengapa. Nah itu pertama kali gue ke Malioboro. Sekitar setengah 7 gitu, masih sepi. Kami nyusurin Malioboro cukup jauh, Mba Fida penasaran pengen makan gudeg. Kalo gue sih selain udah mulai pegel, plus udah nemu soto. Duduk lesehan dah gue. Trus ternyata tukang sotonya deketsama tukang gudeg :Db Abis makan, kami kembali ke mess jam 8-an. Kami istirahat di mess samapi jam 4 sore. Jam 5-nya kami keluar mess lagi, ke Alun-Alun Selatan. Iya, yg ada pohon beringin kembarnya itu :D Disana gue makan ayam bakar. Murah banget, masa cuma 15 ribu! Dari situ kami mampir lagi ke Malioboro, dan coba tebak! Suasananya beda banget sama waktu pagi, drastis. Kalo pagi sepi, malamnya ramai gak ketulungan. banyak pedagang kaki limayg jualan bros, gelang, ada juga yg jual makanan dan minuman. Dari yg jualannya lesehan, sampai toko yg berlantai pun ada. Tapi yg bagus-bagus tokonya jual baju. Banyaaak banget, benar-benar banyak sepanjang jalan Malioboro itu. Setelah gue telusuri, ternyata memang ada plang yg bunyinya "Pasar Sore Malioboro". Pantesan rame.. Kami kembali ke mess jam 10 malam. Satu-satunya detail mengganggu dari malam itu adalah tukang becak yg memaksa menunggui selama kami di Alun-Alun dan Malioboro. Bayangin aja, dari jam 5 sore sampai jam 10 malam. Ya gempor keles.. akhirnya kami menanggung kerugian waktu si tukang dengan bayaran 80 ribu. Benar-benar malak itu tukang. Siapa juga yg minta ditungguin coba!? Ya sudah ikhlasin aja, setahun sekali si tukang dapet banyak pendapatan.Kalo gak ikhlas yg dosa kami sendiri juga.
       Nah, trauma bayar becak, besoknya kami  nggak kemana-mana, sampai sorenya orang tua dan adik saya datang. Malamnya, kami ke Malioboro LAGI! Jadi total sudah 3 kali gue dan Mba Fida ke Malioboro dalam 2 hari, ckck. Disana kami makan lesehan, dan ibu saya belanja baju sangat banyak, yah biasanya ibu saya kalau belanja baju memang selalu banyak sih :D
            Nah, besoknya udah mulai seru nih Kami ke Keraton Jogja, abis itu ke Gunung Merapi! Siang-siang, sih.. Tapi tidak mengurangi keindahan panoramanya. Merapi kan sudah meletus, jadi ceritanya kami naik jip melewati bekas aliran laharnya yg sekarang sedang diangkuti bebatuannya. Kami juga mengunjungi salah satu rumah yg terkena dampak letusan Merapi dan didalamnya ada benda-benda yg meleleh termasuk jam dinding yg terhenti oada pukul setengah 1 dini hari menunjukkan waktu terjadinya letusan. Ada pintu yg hanya kerangkanya, motor sudah tinggal besinya, dan sapi yg tinggal tulang belulang. Setelah dari Merapi, rencana kami ingin ke Candi Prambanan lalu ke pantai Parang Tritis, tetapi karena Candi Prambanan terlihat ramai, setelah makan di dekat situ kami (atau lebih tepatnya gue) memutuskan untuk mengejar sun set di pantai Parang Tritis yg ternyata tidak keburu karena jarak Prambanan - Parang Tritis yg terlampau jauhnya ditambah lampu lalu lintas yg durasi waktunya 2 menit untuk warna merah dan 30 detik untuk warna hijau. Ya, itulah salah satu sis menyebalkan dari Jogja. Meskipun demikian, ketika kami tiba di tujuan, semburat-semburat warna jingga matahari tenggelam masih terlihat walau malam mulai menutupi langit dengan jubahnya. Setelah berfoto-foto sebentar, kami pun pulang ke Mess Jalawira dengan puas dan bahkan sampai pukul 10 malam. Sebenarnya saya sedikit dihujat oleh yg lain karena obsesif mengejar sun set, harusnya ke Prambanan saja nggak masalah. Lalu kami merencanakan untuk berangkat (check out) subuh-subuh, maka kami merapikan barang-barang kami malam itu juga sebelum tidur.
       Esoknya sedikit-eh banyak deng- meleset perkiraan waktu kami berangkat. Yg rencananya abis subuh, jadi jam 8 atau 9 pagi gitu. Hari itu kami ke Dieng. Yap, dataran tinggi Dieng. Sebelum menuju ke sana, kami mampir dulu membeli oleh-oleh yaitu bakpia patok. Lalu kami meluncur ke Dieng melalui Wonosobo. Subhanallah, dikelilingi gunung! Indah dan dingin banget. Kami tiba di tujuan jam 1 siang. Lalu kami makan dan sholat, lalu mulai mengunjungi tempat-tempat wisata yg bisa dikunjungi. Seperti telaga warna, air belerang, dan kompleks Candi Arjuna. Candinya tidak terlalu besar, cenderung kecil malah. Tetapi latar belakang pemandangannya, beh... cantik nian :Db Kami meneruskan perjalanan menuju ke Tegal pukul 5 sore. Seharusnya melalui beberapa kota, namun karena bapak saya memilih melalui jalan alternatif, kami tidak melalui kota-kota. Gantinya, jalur yg kami lewati adalah GUNUNG! Sungguhan gunung, tikungan bertebaran. dan gemericik air terjun terdengar dimana-mana. Plus kabut yg senantiasa menyelubungi, lengkap sudah ekstrimnya perjalanan kami. Menyusuri jalanan sepi yg semakin gelap tanpa lampu dan bukan merupakan pemukiman, mobil kami sendirian. Tidak terbayangkan lega yg kami rasakan kala berpapasan dengan motor atau mobil lain. Meski begitu, tetap tidak ada kendaraan yg tampak di depan atau di belakang kami di jalur yg sama. Intinya, jalanan berlika-liku itu sepi. Azan isya' berkumandang ketika akhirnya ban mobil kami menyentuh permukaan aspal perkampungan. Sebelum menemui perkampungan tersebut, kerap kali kami dikecewakan oleh tiang lampu yg kami kira merupakan pertanda bahwa kami sudah dekat dengan perkampungan. Setelah berhenti sebentar, kami melanjutkan perjalanan setelah keluar dari jalur gunung itu. Sudah memasuki Pekalongan! Benar-benar jalan pintas. Tidak sampai 2 jam kemudian, kami tiba di Tegal, tujuan kami berikutnya. Disana kami (sekeluarga minus Mba Fida) bermalam di mess langganan kami  yaitu Mess Baruna. Iya, Mess Jalawira juga sejenis dengan Mess Baruna itu, yaitu mess milik pangkalan TNI AL yg memang untuk disewakan sebagai penginapan. Tidak lupa sebelumnya makn soto sedap malam khas Tegal :Db
     Keesokannya, kami baru mulai bangkit beraktivitas (selain makan pagi tentunya) jam 11 siang, hehehe... Abis capeknya puol! Bahkan papa, hari itu nggak kemana-mana, manggil tukang pijit. Kalau gue, Nita sama Mama sih ke Pacific Mall, creambath, malahan Mama sampe refleksi segala. Darisana, kami mampir makan sate kambing dulu sebelum pulang. Selain soto sedap malam, Tegal juga terkenal akan sate kambing mudanya.. Lalu sorenya, gue, Nita, Mba Fida, Rima, Maya, Azka, Hafiy, Mba Yuli dan Om Edi, ke... PAI (Pantai Alam Indah)!! Itu masih sore, jam 5. Tapi mendung :( jadi ga dapet sun set deh-,- Jadi secara keseluruhan, gue dua kali ke gunung dua kali ke pantai! Mantap :Db
    Trus besoknya tanggal 31 Desember, hari terakhir di 2013, kami pulang kembali ke kediaman kami di Jakarta :)

   Sekian cuplikan kenangan bahagia dari 2 minggu liburan semester 1 kemarin. Ini cerita gue, gimana cerita lo?;)